Sabtu, 12 April 2014

KIAT MENEMBUS MEDIA MASSA
 Nisa Nur Maulani

            Jurnalistik merupakan sebuah dunia yang banyak digandrungi untuk waktu sekarang ini. Bahkan ada segelintir orang menganggap kegiatan jurnalistik, seperti mengirim artikel di media massa dapat menambah pendapatan sekaligus sebagai penghasilan sampingan. Media yang digunakan untuk mengaplikasikan kemampuan jurnalistik biasanya sebuah media massa yang berbentuk cetak seperti koran, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Dewasa ini banyak orang berlomba-lomba mengirimkan hasil karyanya untuk dapat menembus sebuah media massa cetak seperti koran. Tentu itu menjadi suatu usaha yang tak mudah dilakukan. Dalam usahanya untuk dapat menembus dan meloloskan tulisannya supaya dapat diplublikasikan oleh media massa cetak baik lokal maupun nasional, seorang penulis harus mengerti dan memahami terlebih dahulu, tidak langsung asal mengirimkan karyanya jika tak ingin tulisan yang dikirimnya sia-sia atau bahkan tak dilirik oleh redaksi media massa tersebut.
            Hal dasar yang harus dilakukan oleh pengirim adalah memahami media massa cetak yang akan dimasukinya. Mengetahui kriteria, gaya bahasa, serta kecenderungan dari media cetak tersebut. Akan lebih baik jika sebelum menirimkan karya, pengirim membeli koran atau majalah terbitan beberapa edisi terakhir agar dapat mengamati gaya bahasa yang biasa diterbitkan. Disarankan bagi pengirim pemula, janganlah terlalu ‘muluk’ untuk dapat menembus media nasional sedang media lokal saja masih dalam tahap berusaha. Ketika nanti media lokal telah berada di genggaman tangan, barulah dianjurkan untuk mencoba mengirim karya ke media nasional karena setidaknya pengirim sudah mempunyai ‘nama’ yang bisa dibilang suatu prestasi dan akan menjadi point tambahan di mata redaksi media massa.
            Untuk dapat memperbesar peluang di pulbikasikannya suatu karya, sebaiknya mengirimkan tulisan sesuai dengan topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkuangan masyarakat. Meski telah banyak orang yang berpendapat dan terfokus pada satu topik yang sama, namun ketika pengirim dapat memberikan pendapat berdasarkan perspekktifnya sendiri yang tentunya dengan sudut pandang yang berbeda dari yang lain, maka besar kemungkinan tulisan tersebut dilirik tim redaksi untuk kemudian dipilih dan dipublikasikan karena daya tariknya yang berbeda. Dalam hal ini, identitas diri dari pengirim janganlah terlupakan. Minimal nama, nomor telepon, alamat e-mail, serta nomor rekening karena ketika dipublikasikan, karya kita akan dihargai dengan dikirimkannya nominal sebagai hasil keringat menulis  karya. Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah bahasa yang digunakan, janganlah menggunakan bahasa yang alay atau bahasa tutur yang terkesan begitu santai apabila penulis hendak mengirim tulisan untuk rubrik bertajuk opini. Kolom opini hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tegas, dan mudah dimengerti. Tidak menggunakan bahasa yang bertele-tele serta tidak mengena kepada topik pembicaraan. Hal ini  berbeda jika pengirim hendak mengisi kolom cerpen yang berisi cerita fiksi, biasanya rubrik cerpen adalah rubrik yang santai, banyak humor serta canda-tawa. Dalam hal ini pengirim tak harus mencermati penulisan secara mendetail meski pilihan kata yang akan digunakan harus tetap diutamakan.
            Ketika semua usaha telah dilakukan dan ternyata pada usaha pertama karya yang dikirimkan ditolak tim redaksi, seorang pengirim tak layak untuk berputus asa. Seperti kata pepatah bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Minimal ketika penulis mengirimkan karya secara terus menerus, tim redaksi mengenal nama pengirim, hingga kemudian merasa tak asing didengarnya. Sedikit demi sedikit tim redaksi akan melirik tulisan yang selalu dikirim tanpa mengenal putus asa yang kemudian dapat dimuat dan dipublikasikan oleh media massa yang penulis inginkan.

            Namun ketika semua usaha telah dikerahkan dan memang keberuntungan belum berpihak, setidaknya seorang penulis tetap harus bersemangat dan tak berputus asa karena karya yang baik bukan ditujukan untuk dipamerkan dan dipulbikasikan terhadap orang banyak melainkan sebagai kepuasan hati terhadap karya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar