AJANG EKSPLORASI JURNALISME SMA(ANALISIS WACANA RUBRIK “KOKI KACA” KEDAULATAN RAKYAT BAGI SISWA MAN 3 YOGYAKARTA)
Nisa Nur Maulani
Abstrak
Sebagian besar media massa yang ada
di Yogyakarta seperti koran memberi kesempatan bagi para mahasiswa, dosen,
politikus untuk dapat mengapresiasikan hasil karyanya melalui rubrik-rubrik
opini di berbagai media massa. Tak banyak dari mereka (media massa) yang memberi
kesempatan kepada siswa-siswi SMA yang dalam masalah ini difokuskan kepada MAN
3 Yogyakarta untuk dapat mengasah kemampuan mereka khususnya di bidang
jurnalistik. Namun, kedaulatan rakyat muncul memberi hal
yang berbeda dengan menyediakan satu rubrik khusus dengan jatah satu halaman yang
diberi nama “Kaca”. Terbit seminggu sekali yakni setiap hari kamis. Selain memeberikan pengalaman kejurnalistikan bagi siswa MAN 3
Yogyakarta, rubrik kaca juga dapat memberi pengalaman tentang dunia sosial seperti bagaimana berinteraksi dengan para
narasumber yang mereka lakukan ketika mencari berita serta ketika berinteraksi
dengan teman sesama tim yang bisa jadi berbeda latar belakang, kepercayaan, dan
pandangan hidup. Dalam mengkaji masalah ini, penulis menggunakan analisis wacana
untuk mengetahui bagaiamana latarbelakang dari koki kaca serta tujuan dari pengadaan rubrik
koki kaca tersebut.
Kata Kunci : koran, jurnalistik, MAN 3
Yogyakarta, analisis wacana.
Latar Belakang
Jurnalisme merupakan suatu hal yang
menjadi hobi dadakan dewasa ini, wajar jika sejak dini siswa-siswi khususnya
SMA di Yogyakata melatih kemampuan kejurnalistikannya. Rubrik Kaca
yang terbit
seminggu sekali yakni pada hari kamis oleh Kedaulatan Rakyat merupakan salah satu bentuk kepedulian
media massa khususnya koran untuk melatih bakat jurnalisme siswa-siswi SMA.
Tak banyak yang tau tentang adanya
rubrik ini[1],
namun jangan menganggap remeh karena rubik ini telah ada sejak kurang lebih 5
tahun yang lalu yang hingga sekarang ini telah menjebolkan 24 angkatan dengan
perekrutan 4 angkatan setiap tahunnya. Setiap masa perekrutan atau mereka biasa
menyebutnya satu angkatan terdiri dari beberapa tim, yang setiap tim terdiri
dari 3-4 siswa. “Koki” adalah sebutan untuk personil tim sedangkan “Kaca”
adalah nama rubrik yang dipakai, sehingga mereka disebut dengan Koki Kaca. Jumlah
siswa yang diterima dalam perekrutan pun tidak ditentukan karena sesuai dengan
jumlah pendaftar, apabila yang mendaftar terbilang banyak, maka yang terpilih
untuk menjadi Koki pun juga banyak, begitu juga sebaliknya apabila pendaftar
hanya berbilang jumlah sedikit, maka calon Koki yang diterima pun sedikit.
Setelah proses perekrutan selesai dan terpilih maka siswa-siswi tersebut
dikelompokkan menjadi beberapa tim yang setiap timnya memilki jatah tampil
selama 4 kali edisi dengan tema yang berbeda-beda pada setiap edisinya.
Setiap edisi kaca, siswa-siswi yang
telah tergabung dalam tim mendapatkan job untuk membuat satu judul
sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Dalam sebuah edisi Kaca yang bertema
“Latah” terdapat beberapa judul yaitu Latah Punya Cerita, Membawa
Keberuntungan, Bisa Disembuhkan, dan Boleh Digoda, Tapi Lihat Situasi[2]. Dengan
adanya pembagian tugas tersebut, maka setiap siswa-siswi yang menjadi anggota
kaca tentunya secara tidak langsung telah belajar untuk menjadi seorang penulis
muda yang dapat menjadi bekal ketika telah dewasa kelak.
Mengikuti pemilihan dan tentunya
terpilih menjadi personil kaca adalah sebuah pengalaman yang awesome. Banyak
pengalaman baru yang tak bisa ditemukan di kehidupan sehari-hari. Teman baru
dengan agama yang berbeda-beda tentunya menjadi suatu hal yang unik bagi siswa
MAN 3 Yogyakarta, mereka yang biasanya mempunyai teman dengan kepercayaan yang
sama yakni agama Islam, kini sudah bisa membuka mata karena banyak teman dengan
agama yang berbeda mereka temukan disini. Yang tak kalah penting tentunya
pengalaman mereka di bidang kejurnalistikan. Dengan status sebagai anak SMA, siswa-siswi
MAN 3 Yogyakarta yang terpilih menjadi personil Koki ini bisa mengembangkan
potensi mereka di dunia tulis menulis dan tentunya menjadi suatu motivasi tersendiri
karena mereka berada dibawah naungan instansi yang telah diakui eksistensinya
yakni Kedaulatan Rakyat. Menurut salah seorang mantan personil Koki Kaca, bisa
menjadi personil tim Kaca dan menjadi wartawan itu sangat menyenangkan, karena
seorang wartawan bisa tahu apa yang orang lain tidak ketahui (dalam hal mencari
berita) serta bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan para pakar-pakar
terkemuka yang ahli dalam bidangnya[3].
Dengan dibimbing oleh seorang
Redaktur Kedaulatan Rakyat bernama Agung Purwandono, siswa-siswi tersebut
mengekpresikan kekreatifannya dalam mengolah kata-kata. Namun ternyata, sebelum
siswa-siswi tersebut menjalankan tugasnya sebagai personil Koki, mereka harus
mengikuti training atau yang biasa disebut dengan sekolah kaca selama kurang
lebih 2 bulan lamanya hingga akhirnya masa jabatan angkatan sebelumnya habis
kemudian koki angkatan baru naik untuk menjalankan tugasnya selama masa jabatan
4 kali tampil edisi di Kedaulatan Rakyat.
Uniknya, apabila masa jabatan satu
angkatan atau satu tim itu habis, siswa-siswi tersebut tidak langsung lepas
atau vakum dari segala aktifitas di Kedaulatan Rakyat. Mereka masih tetap bisa
menunjukkan eksistensinya dengan cara menjadi panitia di berbagai event
yang diadakan oleh Kedaulatan Rakyat, bahkan semua alumni Koki Kaca yang telah
menyelesaikan masa jabatannya membuat sebuah organisasi yang diberi nama
“PADAKA-CARMA” (persaudaraan alumni kaca dan reporter remaja)
yang eksistensinya terlihat hingga sekarang terbukti dengan adanya sebuah edisi
khusus alumni Reporter Kaca dengan tema Menjaga Kebersihan Pantai yang
diselenggarakan oleh Ocean of Life Indonesa (OLI), sebuah lembaga yang peduli
pada lingkungan pantai[4].
[1] Berdasarkan
penelitian mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[2] Kaca edisi
Jumat Kliwon 20 Juli 2012 halaman 13
[3] Hasil
wawancara dengan Nurhayati sugiyarno
Putri, seorang Padaka-Carma (persaudaraan alumni kaca dan reporter remaja) MAN
3 Yogyakarta
[4] Kaca edisi
Kamis Pahing 3 April 2014 halaman 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar